Sabtu, 19 Maret 2011

Kenapa WALHI Babel Menolak PLTN?

Bang Aan-- RENCANA pemerintah untuk membangun PLTN merupakan langkah mundur dalam pemilihan energi alternatif. Ketika negara-negara maju, yang selama ini menggunakan tenaga nuklir berupaya menutup reaktor nuklirnya, pemerintah Indonesia justeru baru berencana memulai.

Anehnya, krisis listrik masih saja dijadikan alibi untuk mempromosikan PLTN, termasuk di Bangka Belitung.

Nah, terkait rencana tersebut, beberapa hari yang lalu saya telah menulis sejumlah pendapat; baik dari pihak yang pro, maupun yang kontra. Salah satu tokoh yang mendukung rencana PLTN di Babel, walikota Pangkalpinang dengan jelas dan panjang lebar memaparkan alasan atas dukunganya terhadap rencana pembangunan PLTN di bumi Serumpun Sebalai itu.

Dus, seperti yang pernah saya janjikan, guna mendapatkan pemahaman yang berimbang, saya telah menghubungi pihak WALHI Babel, untuk mengomentari pendapat Walikota Pangkalpinang yang mendukung rencana PLTN di Babel.

Singkat cerita, Kami lalu (17/ 03/11), saya pun menghubungi Direktur Walhi Babel, Bang Uday.
Saya; “Bang, kalau boleh tahu: kenapa WALHI menentang rencana pembangunan PLTN di Babel?”

Bang Uday; ada banyak alasan kenapa WALHI menentang rencana pembangunan PLTN di Babel, antara lain;

Pertama, kita akan menambah ketergantungan baru dengan pihak asing
Kedua, PLTN itu mahal (karenanya akan membebankan pajak yang besar ke rakyat)
Ketiga, PLTN itu energi kotor karena bisa menjadi alat pembunuh massal.
Keempat, PLTN akan membuka ruang baru bagi koruptor
Kelima, PLTN adlah pilihan energi terakhir setelah energi terbaharukan sudah tidak dapat lagi memenuhi kebutuhan energi kita (panas bumi, angin, arus dll).

Bukan hanya di Babel, WALHI juga menyerukan agar pemerintah menghentikan rencana pembangunan PLTN di Indonesia, mengingat dampak negatifnya yang sangat besar dan mengajak seluruh masyarakat untuk melakukan hal yang sama (menolak PLTN). "Stop It Before It Starts" (Itulah pesan masyarakat Hamaoka, yang telah merasakan dampak buruk PLTN).

Catatan akhir; dalam sepekan terakhir, sudah tiga kali saya posting terkait rencana PLTN di Bumi Bangka Belitung. Saya mohon maaf, jika Sodara bosan melihatnya. Semoga ini adalah artikel yang terakhir dan masalah itu segera mendapatkan penyelesaian terbaik.

22 komentar:

  1. Semoga mendapatkan jalan keluar aja dah. turut mendoakan dari jauh aja saya.

    BalasHapus
  2. trims ntuk literatur societynya.. trus brbuat ntuk disampaikan.! trims x lg.

    BalasHapus
  3. @Ismail dan Hamzah;Iya semoga masalah ini cepat rampung.Thk's atas kunjungan dan komentarnya.

    BalasHapus
  4. Saya pribadi sebenarnya juga tidak setuju dengan rencana pembangunan PLTN dimaksud. Thanks Pak udah dishared. Salam

    BalasHapus
  5. say no to PLTN, mending bikin PLTM alias solar system * bukan solar bbm loh ya, hhe

    BalasHapus
  6. @Putu Yoga; Wah saya sendiri belum tahu say no atau say Yess.hehe juga

    BalasHapus
  7. Dampak lingkungannya besar loh PLTN itu, radiasi dan unsur lainnya.
    Sebaiknya memang di pikirkan matang2 sebab dan akibatnya.

    BalasHapus
  8. Sy ingat sekitar 3 tahun lalu ngisi jajak pendapat yang diadakan BATAN. Sy mengisi pertanyaan dengan opsi-opsi jawaban yang bermakna menolak keras. Kemudian diajak untuk berdiskusi. Sayang waktu itu ada kuliah penting jadi tidak bisa datang ke diskusi tersebut. Tapi sampai kapan pun sy akan menolak PLTN! Sayangnya, pejabat tergerus keinginan untuk membangun proyek besar sehingga mereka minat banget membangun PLTN. Dan peneliti di Indonesia tidak diupah layak sehingga hasil penelitian kadang difokuskan untuk mendukung suatu misi (pemerintah).

    BalasHapus
  9. Setujuh banget dengan pendapat Bang Uday.
    Kita juga harus belajar dari Jepang soal Nuklir. Apalagi Indonesia langganan banjir, tidak menutup kemungkinan Tsunami (lagi)...

    BalasHapus
  10. hehehe g bosen bang jd nambah ilmu saya selama ini sy malah sibuk ngurusin istri saya aja wakakak..

    BalasHapus
  11. @Sarah,Fabriosw,dan masyhury;iya saya sendiri berharap masalah ini dipertimbangkan masak-masak.Khususnya oleh mereka yang sekarang sedang etol mengampanyekan PLTN.

    @Kang-Ian;hehehehe,wah sibuk ngurus istri khan emang harus jadi priorutas, Kang.

    BalasHapus
  12. Intinya sih takut kalo PLTNnya mengalami kerusakan, masyarakat sekitar yang akan terkena bencananya..

    BalasHapus
  13. justru efisiensi tenaga yang dibutuhkan disini, memang saya bukan kontra terhadap PLTN, karena dengan engergi angin pun daya yang dapat kita hasilkan tidaklah sebanyak harga pembuatannya, jadi pengeluaran untuk biayanya lebih besar dengan energi listrik yang dihasilkan oleh pembangkit angin. Apalagi untuk angin indonesia itu hanya cukup beberapa rumah, kalau mau yang besar kayak di belanda, memang investasinya harus besar sekali, dan lagi2 biaya gak kalah kan akhirnya sama PLTN, walau memang tidak ada akibat yang ditimbulkan, tapi tetap jadi wacana saja, yah, semoga pemerintah mengambil jalan yang disepakati bersama. masyarakat, investor, dan pemerintah. semoga saja.

    BalasHapus
  14. Hmmm, peristiwa meledaknya reaktor nuklir di PLTN Fukushima, Jepang, belaum lama ini tentunya akan membuat penolakan akan PLTN di Babel semakin meluas. Babel kan punya banyak air laut, kenapa tyidak membangung pembangkit listrik tebaga ari laut kaya di Paiton, Jatim?

    BalasHapus
  15. TUSI nya WALHI ya menolak PLTN. Diberi informasi apapun tentang kebaikan PLTN, mereka akan tetap menolaknya. Titik.

    BalasHapus
  16. Berbagai chemical plant banyak yang dikelola oleh orang Indonesia, aman-aman saja. Belum lagi chemical plant yang ada di luar negeri. Orang Indonesia itu banyak, bahkan banyak sekali ragamnya. Jangan melihat diri sendiri atau melihat orang yang ugal-ugalan dijalan, kemudian semua orang disamaratakan tabiatnya. Ya ndak bisa begitu. PLTN dibangun atas ijin IAEA, bukan kemauan suatu negara, meski negara tsb punya uang sekalipun. Bila perlu PLTN di negara maju di bawa ke Indonesia termasuk tenaga kerjanya, biar gak berdebat tentang untung ruginya PLTN. Jika sebuah PLTN punya 6 unit @ 1380 MW, maka ia bisa memasok 8280 MW atau setara 10 buah PLTU.

    BalasHapus
  17. Waduh, saya merasa beruntung dan berterimakasih sekali atas pengetahuan serta masukan dari Sodara-sodara sekalian.

    BalasHapus
  18. Kalau memperhitungkan dampak ketika terjadi kecelakaan memang sangat rentan dan resikonya besar, namun dari segi manfaat mungkin juga banyak yang bisa diberikan. Namun perlu juga mempertimbangkan energi alternatif lain selain nuklir.

    BalasHapus
  19. sebuah rencana jika melihat efeknya yang begitu besar termasuk jika terjadi kerusakan tentu saja banyak penolakan.
    Potensi yang laen di Babel saya kira bisa diekspolr lagi selain nuklir

    BalasHapus
  20. Belum sempat Kang,sedang merencanakan untuk berbenah.

    BalasHapus
  21. setuju bang, penolakan PLTN harus dilakukan terhadap pemerintah yang latah dan cari2 kesempatan ditengah ramainya isu nuklir jepang...
    kalo ada rencana d karawang saya juga akan nolak pastinya seperti halnya kami menolak ketika dulu ada gosip2 ibukota mau pindah ke karawang :D

    BalasHapus