Selasa, 15 Februari 2011

Untuk Bumi Manusia

KEANGKUHAN manusia terhadap alam tak boleh dibiarkan lagi. Kita perlu meretas jalan baru. Salah satunya dengan memaknai kembali pesan-pesan Teologis yang kita yakini. Ini penting, agar pelestarian alam tak hanya sebatas wacana.

Pada Agustus 2008, Harian Bangka Pos, memuat opini saya tentang tema tersebut. Berikut ini petikannya, sebagai sebuah pengingat, barangkali masih relevan untuk digaungkan. Ini juga sebagai upaya melestrikan informasi, agar tak cepat menguap dan basi. Berikut ini petikan lengkapnya:

Tak bisa dipungkiri.

Krisis lingkungan kian nyata. Alam yang dulu bersahabat dengan manusia kini seakan murka. Di Indonesia pemerkosaan terhadap lingkungan telah mengantarkan banjir hingga ke tangga Istana Jakarta. Selain itu luapan lumpur Lapindo pada akhir Mei 2006 lalu telah menyengsarakan ribuan petani dan penduduk di daerah itu. Ribuan hektar sawah, kebun dan sekolah pun hilang ditelan lumpur panas.

Di Aceh, gempa dan badai tsunami pada 2004 silam juga telah menyebabkan kerugian materil tidak kurang dari Rp 6 triliun (data UNEP-PBB). Belum lagi kebakaran hutan, banjir, tanah longsor, gempa, puting beliung yang terjadi di berbagai daerah di Indonesia, adalah peringatan nyata bagi kita untuk segera mereorientasi gaya hidup yang terus saja memperkosa lingkungan.

Kecongkakan manusia atas determinasinya terhadap alam semesta tidak bisa lagi dibiarkan. Sebaliknya destruksi alam atas manusia harus mendapat tanggapan serius dari seluruh penduduk dunia. Oleh karenanya anjuran untuk melestarikan lingkungan yang telah diajarkan sejak zaman purba, bahkan konon Adam dan Hawa dilempar ke dunia karena tidak menghormati sebatang pohon di surga, layak untuk kembali digali.

Ekonomi, politik, sastra dan agama serta budaya harus kembali ditujukan tidak hanya untuk kemakmuran manusia tapi juga kelestarian alam raya. Di atas semua itu sesungguhnya tanggung jawab terhadap kelestarian alam semesta harus diletakkan di atas pundak kita semua.

Saat ini telaah terhadap masalah-masalah lingkungan sangat diminati. Untuk Indonesia yang mayoritas penduduknya muslim kajian Sayyid Hussein Nasr dalam Man and Nature: Crisis of Modern Man-nya, (baca-eko teology) layak kita pertimbangkan. Menurutnya ada dua hal mendesak yang urgen untuk kita kaji terkait krisis lingkungan saat ini.

Pertama, formulasi dan upaya untuk memperkenalkan sejelas-jelasnya apa yang disebut “hikmah perenial Islam” (hikmah khalidah/scientia sacra, philosophia perennis) tentang tatanan alam, signifikansi religius, dan kaitan eratnya dengan setiap fase kehidupan manusia. Kedua, menumbuhkan dan mengembangkan “kesadaran ekologis yang berperspektif teologis” (eco-theology), dan jika perlu, memperluas wilayah aplikasinya sejalan dengan prinsip agama itu sendiri.

Untuk keperluan itu, sedikitnya ada tiga hal yang perlu ditegaskan di sini. Pertama, menempatkan persoalan lingkungan sebagai bagian dari agama, Islam khsusnya. Dalam kitab al-Muwafaqat, Abu Ishaq al-Syatibi membagi tujuan hukum Islam (maqashid al-syariah) menjadi lima hal: 1) penjagaan agama (hifdz al-din), 2) memelihara jiwa (hifdz al-nafs), 3) memelihara akal (hifdz al-aql), 4) memelihara keturunan (hifdz al-nasl), dan 5) memelihara harta benda (hifdz al-mal). Pertanyaan kita: di mana posisi pemeliharaan ekologis (hifdz al-‘alam) dalam Islam?

Untuk menjawab itu, mengutip pendapat Khatim Ghazali, Yusuf al-Qardlawi dalam Ri’saatu al-Bi’ah fi al-Syari’ati al-Islamiyyah (2001), menjelaskan bahwa pemeliharaan lingkungan setara dengan menjaga maqashidus syari’ah yang lima tadi.

Selain al-Qardlawi, al-Syatibi juga menjelaskan bahwa sesungguhnya maqashidus syari’ah ditujukan untuk menegakkan kemaslahatan-kemaslahatan agama dan dunia, di mana bila prinsip-prinsip itu diabaikan, maka kemaslahatan dunia tidak akan tegak berdiri, sehingga berakibat pada kerusakan dan hilangnya kenikmatan perikehidupan manusia.

Kedua, ajaran Taoisme tentang Yin-Yang juga dapat memberi kearifan. Yang biasanya digambarkan sebagai agresif, maskulin, kompetitif, dan rasional. Sementara Yin dilukiskan konservatif, intuitif, kooperatif, feminin, dan responsif. Dalam Taoisme, Yin-Yang harus berjalan secara sejajar dan seimbang, sehingga keharmonisan antara makrokosmos dan mikrokosmos terwujud.

Kenyataan kita lebih suka berpikir rasional, linear, mekanistik, dan materialistik perlu diseimbangkan dengan pengetahuan yang intuitif, non-linear, dan koordinatif, sebagai perwujudan Yin (kearifan ekologis). Ajaran Taoisme ini rasanya penting untuk diadopsi guna menjawab krisis ekologis yang terus mengancam kita.

Terakhir, kita mungkin juga perlu mendengar fatwa Charlene Spretnak dalam The Spiritual Dimension of Green Politics. Di situ dia menekankan pentingnya mengembangkan green politics (politik hijau); gerakan politik yang sadar ekologi. Kebijakan-kebijakan sosial-politik-ekonomi kita sudah saatnya mengedepankan soal lingkungan.

Sudah waktunya bagi semua elemen bangsa ini dan utamanya diri kita masing-masing untuk mengedepankan pentingnya kesadaran akan lingkungan atau kesadaran ekologis. (Azhari Mhd, Bangka Pos; 11/Aug/2008).

***
Sekarang, bukan waktunya lagi untuk bertanya; kapan dan siapa yang harus memulainya?

Sebab, kalau tidak dari sekarang kapan lagi, dan kalau bukan kita siapa lagi. Mari kita awali dari diri sendiri, keluarga dan orang-orang terdekat. Bukankah pesan nabi Muhammad belasan abad silam juga telah menyiratkan hal ini. Dan rasanya pesan itu masih berlaku untuk seluruh manusia yang mempercayainya.

Hemat saya, kampanye akan pentingnya kesadaran lingkungan harus dijadikan lokus atau skala prioritas dan kita sendirilah yang harus mengawalinya. Sebab bumi tidak hanya untuk masa kini, tapi juga anak cucu kita dimasa mendatang. Dus, sayangi lingkungan seperti menyayangi diri kita sendiri.

19 komentar:

  1. yah semua memang harus diawali dari kita sendiri :) btw tq undangannya nanti kucoba kesana :)

    BalasHapus
  2. Okey bang, kami tunggu kehadirannya di Bloggerbabel.com

    BalasHapus
  3. keadaan sudah sedemikian sulit sodara, kebanyakan warga negri ini tak sempat berpikir untuk kebaikan limgkungannya, bahkan berpikir untuk kebaikan diri sendiri saja tak ada waktu.

    BalasHapus
  4. Maaf bang, ku sengaja ngunci template/blog pakai kode html... tuk copas pilih tools option di laptop bagian atas terus buka centang enable script.. baru pacak nek ngopas e, jangan lupa centang agik (enable script)kalo la sude, kalo dak akses internet dek befungsi. makaseh !

    BalasHapus
  5. Ngape di bloggerbabel.com dakde kolom komentar ato buku tamu e ?

    BalasHapus
  6. Wah, betul itu..
    Kalau bukan sekarang,kapan lagi??
    Harus dimulai dari diri sendiri..

    BalasHapus
  7. ahaaa... lagi ikutan kontes yaaa...
    semoga menjadi yang terbaik...

    BalasHapus
  8. Muhammad A Vip#ya itulah sebabnya nada-nada pelestarian lingkungan harus tetap dan terus kita hembuskan.

    Untuk sodara2 yang lain terimakasih atas kunjungan dan komentar serta masukannya..

    BalasHapus
  9. Iya ya... selama ini isu yang ramai dibicarakan adalah kesejahteraan rakyat yang notabenenya adalah manusia. Kenapa tidak kita tujukan untuk kesejahteraan alam - kesuburan alam. Padahal bila alam sejahtera dan makmur, otomatis manusianya juga akan ikutkan????

    Salam hangat dari Balikpapan. My last blog at Keuangan: Mengatur Anggaran Pemeliharaan Rumah

    BalasHapus
  10. yah.. mulailah mencintai alam dari lingkungan yang paling kecil...dari diri kita sendiri, keluarga dan masyarakat.

    BalasHapus
  11. Kapan dan siapa yang harus mulai?. Sekarang dan Kita sendiri muali dari hal-hal yang terkecil sekalipun.

    BalasHapus
  12. sebagai penulis dan blogger, saya memulainya dengan ajakan ini.Meski kecil, setidaknya pesan-pesan ini terus bersemi..

    BalasHapus
  13. wah ikutan kontes ya? mudah2an sukses ya... mari kita mulai menghijaukan sekitar

    BalasHapus
  14. Iya Pak, iseng-iseng sekalian melestarikan tulisan sendiri..

    terimakasih sudah mampir.

    BalasHapus
  15. Kita semua harus sadar, bahwa bumi kita ini sudah sangat tua, sudah bermilyar tahun umurnya

    BalasHapus
  16. Selamatkan bumi dari tangan-tanga jahil manusia

    BalasHapus
  17. Betul, pesan itu harusdikumandangkan tanpa henti. Semoga pemerintah juga mendengarnya..

    BalasHapus
  18. Benar itu harus di mulai dari kita sendiri.info yg bagus.terimakasih

    BalasHapus