Sabtu, 12 Februari 2011

Tanah Tumpah Darah

Tanah ini memang tanah tumpah darah. Dari dulu, belum juga berubah. Tengok saja cara orang-orang membela agamanya. Yang paling anyar, bisa kita lihat pada aksi kekerasan di Pandeglang pekan ini.

Malam tadi, secara tak sengaja, saya dilihatkan video tragedi itu oleh Bung Afif. Vodeo tersebut baru saja didapatnya dari Internet.
kekerasan ahmadiyah
Maaf, videonya sengaja tak diposting. Bukan pelit, tapi gambar kekejian itu memang sangat mengerikan. Saya pun hanya sanggup melihat satu kali.

Bayangkan saja; tubuh itu sudah kaku. Setengah bugil, terkulai pada tanah becek. Mati, meringkuk tak berdaya. Sekujur tubuhnya lebam, memar, bersimbah darah. Tapi masih juga dipentungi. Dipukul-pukul, bahkan dilempari berkali-kali.

Sejujurnya, saya menangis menyaksikan tayangan bar-bar itu.
Memang saya tak tahu persis latar belakang tragedi itu. Saya juga tak bisa menghakimi siapa yang salah. Apalagi menunjuk pihak yang benar. Pemerintah sendiri kehabisan akal.

Buktinya hingga kini, terobosan ampuh untuk meredakan persoalan tersebut belum juga terlihat.

Sekali lagi, saya memang tak paham tentang Ahmadiyah.
Tapi, Bung Karno -seperti dikutip Goenawan Mohamad- pernah menerangkan bigini;
“…mengenai Ahmadiyah, walaupun beberapa fatsal di dalam mereka punya visi saya yolak dengan yakin, toch pada umumnya ada mereka punya ‘features’ yang saya setujui: mereka punya rationalisme, mereka punya kelebaran penglihatan (broadmindedness), mereka punya modernisme, mereka punya hati-hati kepada hadits, mereka punya striven Qur’an sahaja dulu, mereka punya systematise, aannemelijk, making van den Islam”. Selain itu “Ahmadiyah adalah salah satu faktor penting di dalam pembaharuan pengertian Islam di India”, kata Bung Karno dalam tulisannya, “Me-‘Muda’-kan Pengertian Islam”.
Konflik yang terjadi tengah pada pekan ini, membuat kita dirundung tanya.
Apakah ini rupa baru dari zaman ini. Inikah ciri budaya bangsa kita. Beginikah satu-satunya cara merampungkan kontroversi dan konflik Ahmadiyah di negeri ini.
Ntahlah. Tapi, nurani saya menyangsikanya.

Apalagi setelah melihat (video) cara orang-orang itu meluapkan amarahnya. Cara mereka memperlakukan jasad dan mayat-mayat yang sudah tak berdaya. Saya makin ragu.

Apakah kita akan terus latah. Memakai kekerasan dalam menyelesaikan setiap persoalan. Memanfaatkan jumlah masa, menyerbu dengan sejata. Lantas, akan dibuang kemana akal dan logika sehat yang Tuhan anugerahkan pada kita.

Bukankah apa yang kita benci belum tentu buruk buat kita. Sebaliknya, sesuatu yang sangat kita sukai belum tentu baik untuk kita.

Pada blog Ndoro Kakung -tentang Ahmadiyah-, tanggapan saya seperti ini;
“Kian hari, kita semakin diusir. Kita diusir dari martabat dan kebudayaan kita yang agung.

Nilai-nilai kebangsaan kita pun tak luput dari pengusiran “mereka” yang terus saja merasa paling suci, paling beriman, paling benar.

Sialnya lagi, ‘mereka’ juga seakan dibolehkan untuk membunuh, merusak dan melahirkan ketakutan. Agaknya ‘mereka’ ingin; ‘yang berbeda tak boleh tersisa’.

Setelah menyaksikan tayangan video dari kejadian di Pandeglang kemaren, nurani saya berkata bahwa; “orang-orang itu tak membunuh karena Agama. Apalagi Tuhan.Mereka membunuh dan merusak karena kerasukan (entah dirasuki mahluk apa?)”.

Barangkali saudara punya pandangan berbeda?

8 komentar:

  1. aku tercerahkan...makase bang....

    BalasHapus
  2. miris... hati saya, setelah melihat Video kekerasan anti ahmadiyah

    tak ada alasan untuk pembantaian......, sepakat bang

    BalasHapus
  3. Ya ya yaaa, terimakasih sangat ea sudah turut miris and tercerahkan.

    BalasHapus
  4. Tidak berperikemanusiaan..

    saya juga ndak bisa lihat berita ini di TV, waktu itu TV saya sedang dilanda bencana,, kabelnya digigiti semut..

    terima kasih infonya,:D

    BalasHapus
  5. @Putria;saya beruntung sempat menonton lewat video, berharap dapet gambar untuh dari tv juga tak mungkin soalnya.Kebetulan saya ndak punya Tipi.:D

    BalasHapus
  6. Dengan menggerakkan perselisihan agama – karenanya dalam rangka membelokkan perhatian massa dari problem-problem ekonomi dan politik yang demikian penting dan fundamental. demikian diungkapkan oleh Lenin dalam tulisannya "Sosialisem dan Agama", akar masalahnya adalah problem ekonomi dan politik. meski malu-malu, bang ngangan, jelas mengatakan pemerintah adalah biang keroknya.

    BalasHapus
  7. Bung Afif emang jagonya, kalau sampean yg bilang,saya angkat tangan dech.

    BalasHapus
  8. Benar kata bang afif sebernya tergantung dari pemerintahannya.toh kalau pemerintahannya itu tegas adil dan jujur mungkin orang akan berpikir dua kali untuk melakukan sesuatu.terimakasih

    BalasHapus