Minggu, 27 Februari 2011

Setelah Rendra Tiada

SETELAH Rendra tiada, saja-sajak nampak berbunga
Menebar harum merayu manja
menyentuh nadir anak birahi
Tekapar di ujung nafsu

Setelah Pramoedya, kisah cinta juga berbunga
pancang kiamat diselaput pagi
Baris-berbaris semut menjilat
tergilas tua langkah petaka

Sementara aku di sini
masih rindu riuh gemuruh

9 komentar:

  1. pinter nulis puisi mas.. :D
    btw, jadi pesen kaosnya ndak mas? cek di http://ddery.com/order-kaos-blogger-indonesia/

    BalasHapus
  2. dan jadilah tunas dari keduanya,, ketika ada tak sedikit yang tak suka,,,,jadilah seperti si burung merak itu terbang bebas tanpa batass,,atau jadilah seperti pramudya tetap berkarya walau melawan sang penguasa,,,,,,,,,,hoohohohoho

    BalasHapus
  3. Walaupun keduanya telah tiada, namun penerus-penerusnya kian menancapkan kuku dalam kesusasteraan Indonesia, termasuk bang Aan

    BalasHapus
  4. "pun sebelum merak anggun mengepak sajak, binatang jalang telah lama luruh mengeluh di haribaan-Nya."


    hayo-hayo, adakah disini yang mau mengobati riuh gemuruh rindu bang Aan.?
    :)

    BalasHapus
  5. nampak berbunga.. ada bunga uang, bunga bank.. alhasil kini sajak2 didominasi sajak mata duitan :D

    BalasHapus
  6. kalo rendra merak,,,, dan chairil anwar binatang jalang,,trus bangngangan apa yaa sebutannya,,,,xixiixixix

    BalasHapus
  7. @Bang Radi;Tadinya saya pikir sampean juga rindu riuh gemuruh bang.

    @Goyang Karawang; Iya Pak, sekarang memang sudah banyak sastrawan yang gila uang.Tapi memang wajar dan lumrah, maklum hidup tanpa uang rasanya MUSTAHIL.

    @Warouh;sebutan untuk ku,"bukan sastrawan"

    BalasHapus