Jumat, 14 Januari 2011

Bukan Untuk Merayu

“Kalau bukan kita siapa lagi. Kalau bukan sekarang kapan lagi.”

Kalimat itu besar sekali ku lihat. Suatu sore sepulang dari Sungailiat. Tepatnya, mejeng melintang di depan gerbang kampus baru, cikal-bakal Universitas Bangka Belitung.

Beberapa pekan setelahnya, maklumat itu kupakai, untuk sedikit menyenggol agama. Terutama sekali soal dasar-dasarnya.

"Membangun Kesadaran Eko-Teologis" begitulah tulisku kala itu.

Ide dasarnya begini; bumi, banjir dan berbagai problem lingkungan, kian jadi sorotan. Terutama soal pencemaran dan peningkatan suhu pada planet ini. Pemanasan global tengah mengancam keberlangsungan hidup umat manusia.

Fakta-fakta itu, membuat agama dan teologi tak boleh lagi dibiarkan sembunyi. Harus kembali kita gali. Bukan apa-apa, bukan untuk siap-siapa. Tapi coba pikirkan; betapa agama itu adalah senjata. Teologi adalah pondasi strategis yang; kalau saja digali amat besar paedahnya. Tak terkecuali untuk bumi, air dan keberlangsungan hidup kita semua.

Sayang, dua tahun berselang tulisanku terbang menguap, tanpa jejak.

Karena hingga kini?!.

Bangka, pulau yang tak seberapa luasnya. Biji-bijian bumi terus saja digali. Dikerus, dikeruk tanpa henti. Ya.., aku tahu ini soal ekonomi. Tahu pulalah aku enaknya, ngelimbang TI. Dengan timah sekaleng susu, sudah bisa nyengir. Karena itupun sudah cukuplah buat bensin, rokok dan kopi.

Biji-bijian itu memang menggiuri. Sampai alpa kita rupanya, batas-batasnya. Akibatnya; sampai tak peduli kita, dengan bumi kita sendiri. Padahal coba: naiklah sedikit keatas dan lihat; betapa bangka sekarang kurap jadinya. Kolong tak ter-urus dimana-mana. Mengerikan.

Tapi kenapa, seakan ini hanyalah dugaku sendiri. Kenapa, sampai detik ini tak banyak benar yang peduli. Tak juga penguasanya.

Sayang...., itulah sepenggal sajak buruk untukmu.

Telah kubuat sejak pagi, hinggga pagi lagi. Semoga, bisa kau mengerti. Meski agak buruk nada dan rupanya. Kalaupun tak bisa kau pahami, tak akan aku memarahimu. Sebab sajakku, memang tak dibuat untuk kemesraan. Tak juga kutulis untuk merayu, menggugah nafsumu.

Hanya saja, simpanlah wasiatku ini, “sayangilah bumi kita, seperti juga kau menyayangiku.”

Yogayakrta; 4 April ‘09

Apakah Anda punya buku harian?, jangan lupa megisinya. Kalau belum punya, ada baiknya beli dan mulailah menulisinya. Kata Pramoedya, “Tulislah apa saja.... Suatu saat pasti berguna”. Catatan harian saya mulai sesak. Tulisan di atas merupakan salah satu isinya. Semoga tak menjemukan.

10 komentar:

  1. Aku malah nggak paham,mas.
    tapi kalimat diakirnya aku ngerti,aku juga punya diary yang selalu ku isi

    BalasHapus
  2. harusnya memang seperti ini kan yg namanya sajak... :) keren!!

    BalasHapus
  3. ku lame di sliat, ikak dimane skrg? btw ku lum bapak2 hehehe

    BalasHapus
  4. OOoww, itu hanya panggilan keakraban bae,Bang...

    BalasHapus
  5. Buku harian...? Ehm... Kan udah ada blog?
    Hehe...

    Semoga ke depannya Babel makin jaya deh... :D

    Salam sayang dari BURUNG HANTU... Cuit... Cuit... Cuit...

    BalasHapus
  6. Buku harian? saya sudah melaluinya, kini blog bisa jadi ganti rasanya. Soal ekoteologi, ya...oke lah.

    BalasHapus
  7. nafsu merusak pada manusia adalah keniscayaan, yang bisa dikendalikan seandainya kesadaran mampu menyerap esensi theology :)

    BalasHapus
  8. ku skrg diplmbg :) ngape diyogya kul atau gawekah?

    BalasHapus
  9. Ternyata sahabat Denuz dan A Vip menjadikan blog sebagai sebuah catatan pribadinya. Sepertinya cukup menarik.

    MobileBlogger@; Iya,Pak. Kalau saja kita bisa membogkar lagi nilai-nilai keagamaan kita dan mampu memahami esensinya, mungkin alam tak tak semuram ini.

    BalasHapus