Kamis, 16 Desember 2010

Mengenal Spinoza

Tahayul dan teror mitologis dari tabu-tabu religius adalah ciri masyarakat di mana aku hidup. Inilah yang mesti ku lepas.

Aku akan melepaskan diri sebab tak puas dengan ajaran-ajaran kuno dalam agamaku.

Aku akan melawan tahayul. Menentang mitos.

Tujuanku sederhana; semua orang bebas berfikir.

Ya semua orang harus mendapatkan kebebasan berfikir. Sebab, tak ada yang lebih mengerikan daripada kenyataan bahwa orang-orang dihukum mati karena berfikir bebas.
Aku telah diusir karena perjuangan ini. Aku dihujat, dijauhi, dan dikafiri pula karenanya.


Sinagog juga mengutukku dengan keras.

Mereka bahkan mengucilkan, mengutuk, melaknat, dan menghukumiku.
“terkutuklah dia di siang hari dan malam hari, terkutuklah saat berbaring maupun berjaga, ketika dia pergi maupun datang…”, bunyi kutukan itu.


Bukan itu saja, Sinagog juga mengingatkan orang-orang agar menjauhiku
“Jagalah diri kalian sehingga tak seorang pun berhubungan dengannya baik secara tertulis maupun lisan, tak seorang pun menunjukkan itikad baik sedikit pun kepadanya, tak seorang pun tinggal satu atap dengannya…”. Kutukan resmi dari Sinagog untukku.

Masih ada lagi, tulisanku juga kena kutukan.
“tak seorang pun membaca tulisan-tulisannya”.

Lengkap sudah kutukan dari Sinagog untukku. Aku (di anggap) mati.

Padahal ayah ku seorang pedagang kaya, keturunan Yahudi yang bermigrasi ke Belanda.
Sejak kecil aku dikenal cerdas. Menguasai delapan bahasa asing; Latin, Belanda, Yunani, Italia, Jerman, Yahudi, Spanyol, dan Prancis.

Aku lahir pada 1632 M. dengan nama Baruch de Spinoza. Kelak nama ini ku ganti untuk penanda kehidupan baruku.

Semua telah ku alami dan kujalani dengan penuh ketenangan. Aku toh masih bahagia dengan kamar studi yang kupunya. Meracik buah-buah pikiranku.







Anda mengenal nama Spinoza. Beliau punya banyak karya monumental yang masih jadi rujukan banyak ilmuan, hingga kini. Meski berjuang gigih dalam upaya membebaskan manusia dari abad kegelapan ia sadar bahwa manusia tak bisa berfikir dengan sebebas-bebasnya. Manusia memang harus diberikan kebasan untuk berfikir, namun demikian manusia tak bisa berfikir bebas.

Baruch de Spinoza adalah seorang filosuf. Beliau merupakan salah satu pelatak dasar kehidupan ‘modern’. Modern dalam pengertian filosofis. Setidaknya menurut saya.

Hem……

Geguritan ini adalah secuil kisah tentang kehidupannya. Sebagai pengingat, bagi siapa saja yang sudah merasakan nikmatnya kebebasan berfikir.

>>Apakah anda sudah bebas berfikir tentang apa saja?

1 komentar:

  1. mantap bang...
    saya tertarik dengan " ebagai pengingat, bagi siapa saja yang sudah merasakan nikmatnya kebebasan berfikir "
    nice share bang..

    BalasHapus