Jumat, 18 Juni 2010

Jangan Pedulikan BangsaMu


Negeri kita akan hilang?!. Kata Pak War, lesu kepada saya malam itu. Tak biasanya, orang tua ini terlihat sedih. Mukanya pucat, lusuh, kucel sekali.

Coba sampean bayangkan. Bagaimana saya ngga’ mumet, menyaksikan sisa pelaku revolusi 45 itu, mengekhawatirkan bangsanya. Bukan apa-apa. Saya risih, karena memang tak mau tahu soal-soal politik dan ekonomi bangsa ini. Terlalu banyak pakar-nya.

Pak War sangat kesohor di tempat saya,. Beliau dikenal ramah, cerewet dan banyak omong. Kemana pun kakinya melangkah, semangat 45 selalu mengelora. Dan kalau sudah bercerita, ia tak akan berhenti nyerocos. Seperti kenalpot. Semua orang kampung sudah hapal kisah-kisah patriotik yang selalu di bangga-banggakan-nya. Membosankan, mendengar kisah-kisah itu melulu.

Tapi malam itu, saya tak bisa mengelak. Perbincangan telah dibuka. Akhirnya, (meski malas) untuk menghormati orang tua, saya memaksakan diri bertanya.

“Hilang bagimana, hilang kemana, Pak?. Ditelan kiamat, tenggelam, gempa, dibom atau hilang kemana bangsa kita?. Saya kok ngerasa biasa-biasa saja Pak.”

Sembari ngelinting, kepalanya diangkat pelan. Kegundahan besar mewujud jelas di sekujur wajahnya.

“Tidak. Indonesia tak akan kemana-mana. Hanya saja tanda kemusnahannya mulai kentara”, suaranya agak serak, berat dan bergetar.
“mmmm.....eh.., tanda-tandanya apa Pak?”.

“Kamu suka sepak bola?”, sambarnya secepat kilat.

Belum sempat saya menjawab, orang tua itu kembali mengicau. “Dalam sepak bola, setiap pemain dituntut untuk banyak bergerak, lincah dan menguasai lapangan. Jika tidak, kehadirannya akan jadi sorotan. Bisa dimanfaatkan lawan, merusak stabilitas tim. Dan biasanya kudu cepat digantikan.“

“Apa hubungannya dengan ‘tanda-tanda kemusnahan Indonesia’ tadi, Pak?.”

“Hari-hari terakhir ini, kondisi bangsa kita sangat memperihatinkan. Ibarat sebuah tim sepakbola. Bapak merasa, ada pemain yang terlalu banyak diam dalam tim kita ini”.
Seperti membaca kemalasan saya, beliau diam sejenak. Mungkin memberikan waktu, berharap agar saya mencerna perkataannya barusan.

“Begini saja, coba dengar dulu lagu Iwan Fals yang satu ini. Kalau bapak ndak salah, judulnya Negara, kan!?”.

Kebetulan sekali, lagu Iwan Fals tersebut, memang mengalun lembut dari komputer dikamar saya.

“coba kau dengarkan dan resapi baik-baik.”, perintah beliau. Saya pun menurut saja.
Sudah sering pula, saya mendengar lagu itu.

Dari dalam kamar, suara musisi kenamaan itu melantun................

Negara harus bebaskan biaya pendidikan
Negara harus bebas biaya kesehatan
Negara harus ciptakan pekerjaan
Negara harus adil tidak memihak

Itulah tugas negara
Itulah gunanya negara
Itulah artinya negara
Tempat kita bersandar dan berharap

Kenapa tidak, orang kita kaya raya
Baik alamnya maupun manusianya
Dan ini yang kita pelajari sejak bayi
Hanya saja kita tak pandai mengolahnya

Oleh karena itu bebaskan biaya pendidikan
Biar kita pandai mengarungi samudera itu
Biar kita tak mudah dibodohi dan ditipu
Oleh karena itu biarkan kami sehat
Agar mampu menjaga kedaulatan tanah air ini

Reff; Negara ... Negara... Negara... harus seperti itu
Bukan hanya di surga di duniapun bisa
Negara... Negara... Negara harus begitu
Kalau tidak, bubarkan saja
Atau ku adukan pada sang sepi....

Negara haru berikan rasa aman
Negara harus hormati setiap keyakinan
Negara harus bersahabat dengan alam
Negara harus menghargai kebebasan

Itulah tugas Negara
Itulah gunanya Negara
Itulah artinya Negara
Tempat kita bersandar dan berharap, (selain Tuhan...)

***

‘Negara’ milik Iwan Fals berlalu dari telinga kami. Pak War termangu, diam cukup lama. Tanpa kata. Nun jauh dalam hatinya, mungkin tergulung segumpal dongkol. Begitu harusnya Negara. Itu baru.....arti dan guna negara yang sebenarnya....

Melihat orang tua itu termangu, saya mulai berfikir nakal. Meracik strategi, mencari-cari akal untuk mengusir orang tua ini dengan halus tanpa menyinggung perasaannya.

“Paham sampean?.” Pak War, tiba-tiba bertanya.

Dengan spontan, sambil cengengesan saya menjawab, “Sidikit Pak”. Pak War agaknya tahu, saya tak mau peduli urusan begitu-itu. Buat saya, bukan jamannya lagi, anak muda ngurusi masalah bangsa. Kita kan sudah merdeka. Presiden, kita punya. Anggota Dewan banyak. Hakim kita baik-baik. Tentara kita berjibun. Kurang apalagi coba!?.

Mendengar jawaban dan sikap saya, Orang tua itu langsung berlalu. Tancap gas, kabur meninggalkan saya.

“Dasar! anak muda sekarang memang payah”, gerutunya sayup-sayup dari kejauhan.Gambar pinjam dariJalanSempit

Apa Kabar SaudaraKu;Apakah saudara mau peduli akan bangsa kita?
Download Artikel Ini

17 komentar:

  1. Negara seperti apa yang ada dalam lirik Iwan Fals tersebut, ya itulah sejatinya tugas negara, kalau tidak bisa, ya mending bubarkan aja sekalian. Hehe

    Salam

    BalasHapus
  2. nasionalis nie....
    hehehe....

    coment balik sob...

    BalasHapus
  3. ya sharusnya sich negara itu begitu spt lagu nya iwan fals diatas...lo soal mau peduli pa gak nya ma bangsa ni ya tergantung org2 yang di atas..lo mrka msh peduli ma bangsa n bsa ksh contoh yg baik ma kita2 anak muda knpa tidak??tp lo mrka saja g mau peduli,buat apa?apa mereka mau dengarkan kita???hehehe...itu cma pndapat saya...

    BalasHapus
  4. Jaman sekarang emang sulit nyari orang yang jiwa nasionalismenya oke. Yah..negara kita emang negara yang menunggu 'bola'.

    BalasHapus
  5. @Dodi; ya kadang membubarkan negara serasa mendapatkan pijakan.
    @ sentra; yups Nasionalis dikit..hehehe
    @yanti; pendapat dedek mengagumkan...semoga ja mereka dengar....
    @ Zippy; bukan hanya nunggu tapi juga dungu..

    BalasHapus
  6. Mantab sob, seharusnya emg bgitu smua org di Indonesia, sedih kl lihat indonesia skrg ini :( nice post boss ...

    BalasHapus
  7. pengen banget peduli. pengen banget memberikan lebih pada bangsa ini. tapi kok rasanya susah ya..:)

    BalasHapus
  8. betul sob, sekarang bangsa kita memang jadi bangsa yg manja. Adukan saja pada sang sepi.

    BalasHapus
  9. salam kenal dulu buat pemilik blog

    nih menyimak dulu buat baca artikel artikelnya

    BalasHapus
  10. @ Tukang colong;susah tapi kata org2 lebih baik berbuat meskipun kecil daripada berangan2 untuk berbuat besar,so tunjukin kepedulian kita sekecil apapun itu.
    @ belajar kom-Intrnet; ya kata Bang Iwan si.. gitu..
    @ cow; salam kenal balik terimkasih sudah berkenan mampir..

    BalasHapus
  11. maaf aku nggak merasa berhak bicara tentang keadaan negara nasional tanpa data yang valid. aku tak bisa mengatakan apa-apa tentang indonesia karena aku belum menjelajahi sabang sampai merauke selama 65 tahun.
    walau setiap hari koran,TV, radio dan internet memberitakan kejadian-kejadian yang terjadi di negeri ini, kejadian itu hanya meliputi beberapa orang di sebuah kantor di jakarta pada suatu waktu.
    walau banyak data terkumpul, namun mereka seperti kepingan - kepingan yang tidak terkait sempurna dengan yang lain sehingga belum bisa memperlihatkan seluruh gambar besar bernama indoensia. apalagi kejadian yang terjadi hanya kecil. 200 juta jiwa setiap menit selama 65 tahun.berapa berita itu? lalu berapa berita yang sudah mncul selama ini? dan lihatlah betapa kebanyakan berita berfokus di jakarta! betapa jakarta sentris.
    keping-keping berita setiap warganegara harus dikumpulkan dan dianalisis, dicari kesamaan dan kaitannya. berapa banyak itu?
    selain itu untuk mengetahui kondisi pemerintahan, aku harus studi ke sana. aku harus melewati birokrasi yang banyak. belum tentu nanti akan mulu. bisa jadi mereka memperulit dengan syarat yang banyak dan bayaran tertentu. kemudian bisa jadi setiap petugas berbohong dengan mengatakan sesuatu yang lain atau memberikan informasi yang mengarahkanku pada kesimpulan yang lain.
    dan lagi ketika aku tahu kondisinya, masalahnya dan solusinya, aku terbentur dengan siapa aku. Siapa aku/ aku adalah seorang rakyat sipil mahasiswa 20 tahun yang sendirian. Aku bukan siapa-siapa. Aku tak punya kekuatan politik yang besar untuk mengubah negara. Kalau aku mengajak banyak orang nanti banyak orang yang melawanku. Kalau pakai berdemo kekuatan kami tak berpengaruh. Demonstarsi adalah sia-sia karena pemerintah tidak mendengarkan dan tidak mau mematuhi rakyat.
    Maka aku sendiri. Aku filosofer. Aku hanya melihat negara sebagai teori filsafat yang ideal. Aku menjauh dari praktik, kenyataan dan dunia sebenarnya. Aku hanya berharap sampah ini segera berkuasa dan menghancurkan indonesia. Ak berharap aku menjadi punisher (penghukum gelap terhadap pemerintahan anti demokrasi—anti aspirasi rakyat/ masyarakat). Aku berharap negara ini cepat tenggelam karena tsunami.

    BalasHapus
  12. masukan anda sangat berarti buat saya, meski sudut pandang kita berbeda tapi terimkasih sekali atas comentarnya...



    "sebagian besar filosuf hanya berpikir tentang dunia tapi tak mampu merubahnya"K.Mark.

    BalasHapus
  13. Bapak merasa ada pemain yang terlalu banyak diam di tim ini

    wew
    kalimat keren
    ayo ayo ayo
    terus bergerak
    terus berlari
    walau bola belum diumpan
    kita harus berlari dulu

    rebut rebut rebut

    BalasHapus
  14. Kit berikan apa yang kita bisa saja, walaupun hanya sekedar perasaan membela dan cinta ....

    BalasHapus
  15. saya harap indonesia lebih baik lg kedepannya... amin....

    Pendi Ari Wibowo

    BalasHapus
  16. Indonesia harus lebih maju dari tahun sebelumnya. saya tunggu kunjungan anda di blog saya

    BalasHapus