Kamis, 03 Juni 2010

Antologi Puisi; Merindukan “Indonesia”


Sebulan yang lalu, saya diminta seorang kawan, menulis komentar pendek untuk karyanya. Buku Antologi puisi.

“Semoga Adalah Negeriku”, judul buku itu.

Dengan hati-hati saya menulis “geguritan Devtra mendidih bak Rendra muda. Sangat jujur...., Seperti syahadat; sajak-sajaknya terang-terentang”.

Tiga hari yang lalu, buku tersebut mampir ke tangan saya. Covernya hitam, denga latar seorang pemuda yang asyik duduk menyantap koran, didepan-nya tumpukan sampah. Sementara cover belakang sesak oleh komentar-komentar pendek dari beragam kalangan. Mulai dari sastrawan, aktifis sampai pelukis. Ada juga penulis, petani dan sebagainya.

Singkat cerita; dengan senang hati halaman demi halaman saya baca. Agak susah buat saya yang gersang darah sastranya. Tapi saya coba dalami sebatas kemampuan.
Berani dan beda, itulah kesan saya terhadap sajak-sajak Devtra, penyair tunggal antologi puisi tersebut. Hemat saya, antologi yang diterbitkan oleh Indie Book Corner (IBC) Jogjakarta itu tak lazim. Bukan “puisi koran” bukan pula sembarang sajak.

Kegelisan yang amat sangat, melambai dan kentara sekali disana. Sebuah kegelisahan seorang sastrawan muda yang haus “Indonesia”. Garang, apa adanya. Usil menyitir seluk-beluk kekaburan -untuk tidak menyebut keburukan- dari negerinya. Anehnya lagi, sang penulis tak gentar menabur virus; membuat yang baca bertanya, bergetar sekaligus merinding. Berurai tangis tapi tak cengeng.

Sebagai gambaran, saya kutipkan sebuah sajak favorit dari antologi tersebut. “Mandul Atau Selingkuh” judulnya.

Bapak pertiwiku
Tak bosankah kau melihatku dalam kesendirian
Tanpa kakak tanpa adik
Bapak pertiwi ku
Tak jemukah kau melihat aku merenung
Tanpa tawa tanpa canda
Bapak pertiwi ku
Kenapa kau namakan aku duka

Peng-awalan yang menghentak, meghujam dalam sekali -setidaknya bagi saya. Devtra, berupaya keras mengantar pembacanya dengan melakukan “kenyelenehan akut”. Disengaja atau tidak namun tekanan itu berbicara. Dalam perspektif “nakal” permulaan sajak-sajak devtra -khususnya permulaan sajak di atas- memuat propaganda. Memuat misi, sederhana-mengena. Menggugah pembaca.
Atau perhatikan sajak yang satu ini;

“INNA LILLAHI WAINNA ILAIHI ROJI’UN”

Diharapkan kepada seluruh rakyat Indonesia
Untuk menurunkan bendera setengah tiang
Karena tahun ini
bulan ini
minggu ini
jam ini
menit ini
dan
detik ini
Telah meninggal dunia keadilan yang tak pernah lahir

Dan semoga kematiannya
Diikuti keserakahan kemunafikan pembunuhan terorisme Peselingkuhan dengan modal asing
pendidikanyang mahal
Guru yang bodoh dokter yang sakit
hakim yang melanggar hukum
Pejabat yang jahat aparat yang keparat

Dan semoga kematian Nya diikuti pula oleh segala bentuk dan jenis penindasan yang lainnya.
……………….Amieeen…………

Seperti yang saya utarakan di atas, sajak-sajak Devtra memang memuat propaganda. Koran, sudah pasti takkan berani memuatnya. Sebab, sajak seperti ini dipastikan menggiring siapa saja yang membacanya, pada lembah keragu-raguan kritis. Agaknya, penulis hendak “menyesatkan” pembacanya ke jalan yang benar. Antologi puisi setebal 94 halaman ini, menurut saya perlu anda baca. Semoga anda lekas memilikinya, karena setahu saya buku tersebut dijual terbatas. Ntahlah, apa alasannya.

“Sastrawan memang ada-ada saja. Itulah yang membuat mereka “selengkah” berbeda dengan kebanyak manusia. Mungkin?!.”

Download Artikel Ini

7 komentar:

  1. wew, saya salah seorang yang cukup beruntung mendapatkan buku ANtologi Puisi ini meskipun dengan susah payah saya mendapatkannya. memang, tak berlebihan apa yang dikatakan oleh pemilik blog ini, berikut kutipannya "Dalam perspektif 'nakal' permulaan sajak-sajak devtra -khususnya permulaan sajak di atas- memuat propaganda. Memuat misi, sederhana-mengena. Menggugah pembaca". sajak-sajaknya memang begitu inspiratif, provokatif dan menggetarkan hati pembaca (khususnya saya).
    Salut untuk Bung Devtra yang berani melahirkan buku walaupun keluar dari pakem pasar, bukan sajak koran kalau menurut Bung Aan. oeya, mohon maaf bagi pemilik buku yang saya 'minta' secara paksa.

    BalasHapus
  2. wah sajak-sajaknya seperti jarum yang sangat tajam y brad...

    BalasHapus
  3. Irwan Bajang6 Juni 2010 02.24

    mantap mantap, Bung...
    boleh saya copas ke blog IBC yang ini Bung??

    BalasHapus
  4. puisi itu memang sesuatu yang indah :)

    BalasHapus
  5. puisi itu memang sesuatu yang indah :)

    BalasHapus
  6. Bang keren tuch buku, bagi-bagilah gmna dapatkannya...

    BalasHapus
  7. 8 PESONA ARIEL YANG MEMBUAT WANITA TERGILA-GILA :
    http://bagalak.blogspot.com/2010/11/8-pesona-ariel-yang-membuat-wanita.html

    TANDA 100 HARI SEBELUM KEMATIAN :
    http://bagalak.blogspot.com/2010/11/tanda-100-hari-sebelum-meninggal.html

    BalasHapus