Minggu, 18 April 2010

Menyemai Spirit Perjuangan Gus Dur


Siapa yang tak kenal sosok Gus Dur. Tak seorang pun yang melupakan sejarah kehidupan dan perjuanganya. Sang pendekar demokrasi itu menutup tahun 2009 lalu dengan kedamian abadi. Bapak pluralis yang nyentrik itu meninggalkan kesan mendalam bagi keluarga, pengagum bahkan lawan politiknya. Prilakunya yang nyeleneh dan unik telah menjadi warna tersendiri bagi negeri ini.

Kepemimpinan sosok Abdurahman Wahid (Gus Dur), benar-benar memberikan inspirasi bagi banyak orang. Beliau sangat fenomenal sebagai tokoh politik. Sebagai mantan Presiden, ia adalah tokoh besar bangsa ini. Selama kepememimpinnya, beliau memberikan kebebasan berpendapat, dan kebebasan pers. Sebagai tokoh politik, Gus Dur memiliki pendirian yang kokoh, unik, dan sulit tergantikan. Style Nahdiyin-nya amat kental. Dan harus kita akui, banyak sekali yang bisa dipelajari dari Kiai yang satu ini.

Gus Dur adalah tokoh besar bagi bangsa Indonesia. Ia sangat memperhatikan isu-isu pluralisme dan mementingkan arti dari kejujuran. Semasa hidupnya, Gus Dur dikenal sebagai sosok yang sangat mendedikasikan jiwa dan raganya untuk bangsa Indonesia. Hidupnya semata-mata untuk bangsa dan negara. Bahkan beliau meninggalkan kepentingan pribadinya untuk bangsa, orang yang mencintai bangsa dan menyediakan waktu untuk bangsa.

Kyai Nyleneh dan lucu ini adalah seorang kyai yang sangat fenomenal. Beliau juga dikenal suka membanyol. Gus Dur telah membebaskan pemikiran anak-anak muda NU dari belenggu tirani. Tidak saja bagi kalangan muda NU, Gus Dur juga menjebol kran pers yang selama berpuluh-puluh tahun di tutup rapat oleh rezim Soeharto.
Di balik sosoknya yang kontroversial, ia justru memberikan banyak ilham baru bagi perkembangan pemikiran Islam di Indonesia. Beliau memiliki kepedulian yang sangat tinggi terhadap komunitas-komunitas marginal. Agama-agama yang tidak tercatat dalam SK Mentri Agama juga menjadi perhatian beliau. Memang pantaslah rasanya jika beliau mendapatkan predikat sebagai guru bangsa.

Kepergiannya pada 30 desember lalu, membuat tidak hanya bangsa Indonesia yang merasa kehilangan sosok Abdurrahman Wahid (alm), tapi juga dunia internasional. Karena sosoknya sudah diakui oleh dunia internasional sebagai perekat persaudaraan antar umat beragama. Gus Dur mengajarkan bahwa agama bukanlah alat bertempur melainkan sebagai persaudaraan antar umat beragama.

Selama hidupnya Gus Dur telah menampilkan peran tertentu dan memberikan jasa besar bagi bangsa Indonesia. Walaupun sering bersikap konyol, tetapi banyak pula idenya yang bermanfaat terutama bagi pengembangan atas perlunya kemajemukan dan penguatan demokrasi.

Prinsip dan Wasiat-wasiat Pak Kiai

Sikap Gus Dur yang menghargai siapa pun membuat dia menjadi 'idola' sekaligus bapak semua kalangan. Tentu di mata saudara kita dari etnis Tionghoa, Gus Dur tak mungkin akan terlupakan. Sebab, di era pemerintahan beliaulah, tarian barongsai dan liong yang sempat masuk kotak di era Orba, dibuka seluas-luasnya. Dan yang perlu dicatat, almarhum pula yang telah menetapkan perayaan imlek menjadi hari libur nasional, serta diakui sebagai bagian dari bangsa ini. Dalam konteks hubungan internasional, Gus Dur mampu mengajak dunia agar bisa saling menghargai kepentingan tiap negara sehingga tidak ada yang merasa superior dan inferior.

Tak heran kemudian jika sebagian orang menganggap Abdurrahman Wahid alias Gus Dur (almarhum) sebagai tokoh dengan ide kontroversial dan mengejutkan, bahkan tak jarang melawan arus. Sebagai contoh, suatu ketika almarhum sempat mengejutkan publik saat memberi kata pengantar buku humor ”Mati Ketawa Cara Rusia”. Ia juga pernah mengagetkan banyak orang saat menjadi komentator tayangan sepak bola atau pengkritik film. Konyolnya setiap kali dikritik, dia juga dengan tangkas mengatakan, “Gitu aja kok repot.” Begitulah, bukan Gus Dur namanya kalau harus mati kutu.

Selain berbagai predikat yang telah melekat padanya, Gus Dur juga dikenal sebagai tokoh serbabisa. Ia banyak menulis kolom berisi kritik sastra dan kepedulian sosial di sejumlah media massa sejak era 1970-an. Ia juga rajin menjadi pengamat sepak bola dan menjadi penggemar berat musik-musik klasik.

Mengutip mantan Ketua DPP PKB, Hermawi Taslim. Sebagai orang yang selama 10 tahun terakhir turut bersama Gus Dur dalam segala aktivitasnya. Sedikitnya ada tiga prinsip dalam hidup Gus Dur yang selalu ia sampaikan kepada orang-orang terdekatnya. Pertama, selalu berpihak pada yang lemah. Kedua, anti terhadap diskriminasi dalam bentuk apa pun. Ketiga, tidak pernah membenci orang, sekalipun ia disakiti.
Selain itu melalui lembaganya, Wahid Institute, ia juga mempromosikan wajah Islam Indonesia dengan wajah yang lebih sejuk dan damai. Hingga detik-detik terakhir dengusannya, ia masih tetap melakukan syiar Islam ke penjuru dunia bahwa agama yang dibawa Nabi Muhammad SAW adalah agama yang damai. Hal itu ia tunjukkan dengan memberikan perlindungan yang adil terhadap seluruh umat manusia tanpa membedakan pandangan keagamaan maupun latar belakang sosial lainnya.

Selamat jalan Pak kiai, sang pluralis, perjuanganmu tak akan kami lupakan. Wasiat dan prinsip-pripmu, teladan hidupmu akan terus menjadi rujukan bagi kami dalam mengatasi permasalahan bangsa ini. Sejak hari ini, bersama-sama akan kami semai spirit perjuanganmu.(artikel saya ini,sebelumnya telah dimuat di koran Suara bangkabelitung)
Download Artikel Ini

3 komentar:

  1. yups sepakat banget brou...

    BalasHapus
  2. Gusdur memang patut diacungi dengan semua jempol...

    BalasHapus
  3. sudah sepantasnya kita meneruskan perjuangan beliau...

    BalasHapus